BAPAK, SEPAK BOLA, DAN TANGGUNG JAWAB
"Ketika seseorang melepaskan tanggung jawab mereka, maka orang tersebut tidak akan dipercaya lagi oleh orang lain", kira-kira seperti itulah kata-kata bapak terucap dari mulut beliau kepada saya. Dari situlah saya berpikir bahwa lahir dan tumbuh besar di dalam keluarga penikmat sepak bola adalah anugerah Tuhan yang terindah bagi saya.
Sepak bola, siapa yang tidak kenal dengan jenis olahraga satu ini. Mungkin dari anak kecil, orang dewasa, orang tua, laki-laki sampai dengan perempuan pun sangat paham dengan olahraga ini. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer di dunia. Lalu mengapa sepak bola bisa dikatakan sebagai olahraga yang paling populer? Bukankah masih banyak olahraga lain yang tidak sedikit jumlah penikmatnya, seperti basket atau bulu tangkis misalnya. Jawabannya adalah karena sepak bola itu sederhana. Olahraga ini tidak membutuhkan syarat yang neko-neko untuk memainkannya, cukup ada bola dan beberapa orang saja. Meskipun pada umumnya dimainkan oleh 22 orang yang terbagi dalam 2 tim, terkadang kita hanya butuh kurang dari itu untuk bisa bermain sepak bola, dan saya, anda, serta kita semua dapat menikmatinya.
Tiga belas September sembilan belas sembilan tiga, saya lahir di suatu kota yang bisa dibilang jauh dari hingar bingar persepakbolaan nasional. Namun kata bapak saya ketika saya masih kecil, kultur sepak bola di kota saya sudah mendarah daging meskipun tidak ada klub yang mewakili kota saya untuk berkompetisi di kancah nasional. Iya, kultur tersebut terbentuk akibat banyaknya klub-klub sepak bola amatir milik desa atau kelurahan yang berkompetisi di level antar desa atau kelurahan atau yang biasa kita sebut dengan istilah "kompetisi tarkam". Menurut cerita bapak saya, kompetisi tarkam menjadikan masyarakat yang kampungnya memiliki klub sepak bola menjadi loyal dan akan mendukung tim sepak bola kampungnya mati-matian saat berlaga. Bapak saya sendiri adalah salah satu pemain andalan klub sepak bola di desanya. Meskipun memiliki tubuh yang tergolong tidak besar, beliau merupakan pemain kunci yang bermain pada posisi "gelandang pengangkut air" atau bahasa kerennya Defending Midfielder, yang memiliki tugas yang sangat berat yakni menghalau serangan lawan sebelum memasuki sepertiga atau bahkan setengah pertahanan dan mem-build up serangan apabila telah mandapatkan bola. Dari sepak bola lah bapak saya megambil banyak nilai kehidupan yang kemudian ditularkan pada anak-anaknya, terutama anak laki-laki satu satunya, saya.
Salah satu nilai yang diajarkan bapak kepada saya adalah tanggung jawab. Mungkin karena beliau dulunya adalah seorang gelandang bertahan yang memiliki tanggung jawab begitu besar untuk tim yang dibelanya, bapak saya selalu mengajarkan kepada saya bahwa tanggung jawab merupakan hal utama yang harus dimiliki oleh seseorang. "Ketika seseorang melepaskan tanggung jawab mereka, maka orang tersebut tidak akan dipercaya lagi oleh orang lain", kira-kira seperti itulah kata-kata bapak terucap dari mulut beliau kepada saya. Dari situlah saya berpikir bahwa lahir dan tumbuh besar di dalam keluarga penikmat sepak bola adalah anugerah Tuhan yang terindah bagi saya.
Ketika saya tanya mengenai mengapa bapak memilih sepak bola sebagai olahraga favoritnya, bapak menjawab dengan mengutip quotes Johan Cruyff, "sepak bola itu sederhana, namun ada kalanya kita harus berpikir bagaimana caranya untuk memainkan olahraga sederhana ini sehingga menjadi olahraga yang indah". Saya hanya tertegun mendengar jawaban bapak kala itu. Lalu ketika saya bertanya mengenai klub favoritnya, bapak memilih Liverpool sebagai klub level dunia yang didukungnya. Bapak tidak memiliki alasan pasti mengapa beliau menyukai Liverpool, namun menurut beliau, beliau awalnya hanya menyukai seorang pemain Liverpool yakni Robbie Fowler. Menurutnya Robbie merupakan pemain yang stylish dan memiliki naluri mencetak gol yang sangat tajam. Bertahun-tahun bapak mendukung Liverpool hingga pada musim 2004-2005 Liverpool berhasil mengalahkan AC Milan pada Final Liga Champion Eropa dan menjadi kampiun musim itu, mungkin bapak saya adalah orang yang paling bersuka cita kala itu.
Kecintaan bapak terhadap sepak bola menular pada anaknya. Tak pelak, kala itu setiap minggu malam bapak mewajibkan saya untuk menonton satu pertandingan sepak bola. kebetulan kala itu Liga yang paling laris adalah Liga Italia. Jadi saya tak asing dengan nama-nama seperti Gabriel Omar Batistuta, Fransesco Totti, Alesandro Del Piero, Pierluigi Collina, dan para pelaku sepak bola Italia lain. Hingga pada saat ini bapak yang dulunya mengajarkan anaknya mengenai berbagai macam kultur sepak bola telah berganti bertanya kepada anaknya, "siapa itu Paulo Dybala?"
Komentar
Posting Komentar